Gurihnya Angka: Konsumsi Gorengan di Kota Bandung Tembus Rp 808 Miliar Per Tahun! Apa Penyebabnya?
Kalau kamu pikir gorengan cuma sekadar camilan murah meriah, data ini mungkin bikin kamu bilang “Wah, serius?”
Ya! Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2024 yang dianalisis oleh BPS Kota Bandung, konsumsi gorengan warga Bandung mencapai ±404,69 juta potong per tahun. Jika diasumsikan satu potong dihargai Rp 2.000, nilai perputaran uang dari gorengan bisa menembus lebih dari Rp 808 miliar per tahun.
Ini bukan sekadar angka iseng — ini mencerminkan betapa besar peran gorengan dalam hidup masyarakat Bandung dan ekonomi lokalnya.
Dari Mana Angka 404 Juta Potong Itu?
BPS mencatat bahwa:
-
Rata-rata warga Bandung mengonsumsi ±3,113 potong gorengan per minggu.
-
Jika satu orang mengonsumsi sekitar 3 potong per minggu, dalam setahun jumlahnya mencapai ±156 potong per orang.
-
Dengan populasi Kota Bandung sekitar 2,59 juta jiwa, total konsumsi gorengan menjadi ±404 juta potong per tahun.
Kalau dihitung dengan harga rata-rata:
- Rp 1.000/potong → ± Rp 404 miliar per tahun
- Rp 2.000/potong → ± Rp 808 miliar per tahun
Itu baru konsumsi warga Bandung sendiri — belum termasuk wisatawan yang datang dan jajan gorengan.
Ragam Gorengan yang Bikin “Laris Manis”
Jenis gorengan di Bandung sangat beragam. Di antaranya:
-
Tahu / Gehu
-
Tempe / Tempe goreng
-
Pisang goreng
-
Bakwan / Bala-bala
-
Cireng / Cipuk
-
Kroket, ketan goreng, dan lain-lain
Kelezatan, harga murah, dan ketersediaan yang mudah di setiap sudut jalan membuat gorengan jadi go-to food bagi banyak orang dari berbagai kalangan.
Dampak Ekonomi yang Tidak Kalah Menarik
Nilai Rp 808 miliar per tahun bukan cuma angka besar — dia bergerak di banyak sektor ekonomi:
-
UMKM dan pedagang kaki lima yang mengandalkan gorengan sebagai sumber utama penghasilan.
-
Pemasok bahan baku seperti tepung, tahu, tempe, toge, pisang, dan minyak goreng ikut terdorong permintaannya.
-
Rantai pasok lokal dari pasar tradisional sampai produsen lokal ikut terseret dinamika konsumsi ini.
Dengan kata lain, gorengan tidak sekadar “makanan kecil” tetapi juga penggerak ekonomi mikro yang nyata — terutama di era di mana UMKM jadi tulang punggung ekonomi nasional.
Mengapa Bandung “Suka” Gorengan?
Beberapa faktor yang membuat gorengan begitu populer di Bandung:
1. Budaya Kuliner yang Kuat
Bandung dikenal dengan budaya kulinernya yang kaya. Gorengan sudah jadi bagian dari keseharian warga — dari sarapan, teman ngopi sore, sampai bekal anak sekolah.
2. Harga yang Terjangkau
Dengan harga rata-rata kisaran Rp 1.000–Rp 2.000 per potong, gorengan jadi pilihan camilan paling ramah dompet.
3. Cuaca dan Kebiasaan Ngariung
Udara Bandung yang kadang dingin bikin gorengan panas terasa makin cocok dinikmati sambil ngariung bareng teman atau keluarga.
4. Akses Mudah di Seluruh Sudut Kota
Dari pasar tradisional sampai trotoar jalan, gorengan gampang ditemui kapan saja.
Dibandingkan Daerah Lain, Bandung Posisi ke Berapa?
Walaupun konsumsi gorengan Bandung mencapai ratusan juta potong per tahun, di tingkat nasional Bandung tidak menempati posisi tertinggi jika dibandingkan rata-rata konsumsi gorengan per kapita di beberapa daerah lain, seperti Kabupaten Batang atau Indramayu yang tingkat konsumsi per minggunya bahkan lebih tinggi.
Artinya, konsumsi gorengan memang fenomena nasional yang tersebar luas, tetapi pola dan intensitasnya bisa berbeda antar wilayah.
Pola Konsumsi vs Kesehatan
Ada sisi lain dari tren konsumsi gorengan:
- Gorengan termasuk makanan yang tinggi lemak dan kalorinya cukup padat.
- Beberapa survei nasional menyebut bahwa konsumsi gorengan dalam jumlah besar menjadi bagian dari pola makan tidak sehat yang meningkat di Indonesia.
Ini bukan berarti kamu harus berhenti ngemil, tapi penting untuk paham keseimbangan konsumsi gorengan dengan makanan bergizi.

Posting Komentar