Harga BBM Pertamina Terbaru Oktober 2025: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Naik

Daftar Isi

Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan publik pada awal Oktober 2025.
PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, secara resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi di seluruh SPBU mulai 6 Oktober 2025.

Penyesuaian ini mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Bio Solar tetap dijaga pemerintah agar harganya tidak membebani masyarakat.

Harga BBM Pertamina Terbaru per 6 Oktober 2025

Mengacu pada situs resmi Pertamina Patra Niaga, berikut daftar harga eceran BBM terbaru untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat:

Jenis BBMHarga per LiterPerubahan
Pertalite (RON 90)Rp10.000Tetap
Bio Solar (CN 48)Rp6.800Tetap
Pertamax (RON 92)Rp12.500Tetap
Pertamax Turbo (RON 98)Rp13.100Naik dari Rp12.800
Dexlite (CN 51)Rp13.850Naik dari Rp13.600
Pertamina Dex (CN 53)Rp14.300Naik dari Rp14.000

Harga di atas berlaku untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Di daerah lain, harga dapat berbeda karena perbedaan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).

Dengan kenaikan ini, tiga jenis BBM non-subsidi — Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex — mengalami penyesuaian, sementara Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar tetap stabil.

Alasan Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi

Pertamina menegaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga dilakukan secara transparan dan berkala.
Tujuannya agar harga BBM non-subsidi lebih mencerminkan kondisi pasar global, sekaligus menjaga keberlangsungan operasional dan pasokan energi nasional.

Beberapa faktor utama yang memengaruhi perubahan harga BBM antara lain:

  1. Harga minyak mentah dunia meningkat
    Harga minyak jenis Brent Crude sempat menembus level USD 94 per barel pada akhir September 2025, naik dibandingkan rata-rata bulan sebelumnya yang berada di kisaran USD 88–90 per barel.

  2. Kurs Rupiah melemah terhadap Dolar AS
    Pelemahan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp15.800–Rp16.000 per USD berdampak pada meningkatnya biaya impor minyak mentah dan bahan aditif yang digunakan dalam proses produksi BBM.

  3. Biaya logistik dan distribusi meningkat
    Biaya pengangkutan dan operasional SPBU ikut mengalami kenaikan, terutama akibat penyesuaian tarif transportasi dan biaya energi domestik.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, penyesuaian harga dianggap perlu agar Pertamina tetap menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis dan pelayanan publik.

BBM Subsidi Tetap Dijaga Pemerintah

Berbeda dengan BBM non-subsidi, harga Pertalite (RON 90) dan Bio Solar (CN 48) tidak mengalami perubahan.
Keduanya termasuk dalam BBM bersubsidi dan penugasan, yang harganya diatur langsung oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM dan BPH Migas.

Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Bio Solar dipertahankan di Rp6.800 per liter.
Kebijakan ini merupakan bentuk perlindungan sosial pemerintah bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan inflasi nasional.

Pemerintah juga memperkuat pengawasan distribusi BBM subsidi dengan sistem digitalisasi SPBU agar lebih tepat sasaran, terutama untuk pengguna prioritas seperti kendaraan umum, nelayan, dan pelaku usaha kecil.

Dampak Penyesuaian Harga BBM terhadap Masyarakat dan Ekonomi

Kenaikan harga BBM non-subsidi meski relatif kecil, tetap menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian.
Bagi masyarakat pengguna Pertamax Series atau Dex Series, biaya perjalanan harian akan sedikit meningkat.

Di sisi lain, sektor industri dan logistik juga perlu menyesuaikan biaya operasional.
Efek jangka pendeknya bisa terlihat pada peningkatan harga beberapa barang konsumsi karena adanya kenaikan biaya transportasi dan distribusi.

Namun, karena BBM subsidi tidak naik, dampak inflasi diperkirakan masih terkendali.
Pemerintah menilai kebijakan ini cukup seimbang, menjaga stabilitas harga di pasar sambil menyesuaikan beban Pertamina dengan kondisi ekonomi global.

Perbandingan dengan Negara Tetangga

Jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, harga BBM Indonesia masih relatif lebih murah.
Contohnya, harga bensin RON 92 di Thailand berkisar sekitar Rp18.000 per liter, dan di Singapura mencapai lebih dari Rp30.000 per liter.

Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional Indonesia masih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, dengan menjaga keseimbangan antara harga pasar dan subsidi.

Arah Kebijakan Energi dan Transisi ke Masa Depan

Pertamina bersama pemerintah kini tengah mempercepat program transisi energi bersih.
Langkah ini mencakup pengembangan BBM ramah lingkungan, biofuel, serta infrastruktur untuk kendaraan listrik (EV).

Upaya ini bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga untuk menciptakan ketahanan energi nasional yang lebih berkelanjutan.
Konsumen diharapkan mulai beradaptasi dengan pola konsumsi energi yang efisien dan mendukung penggunaan energi hijau.

Informasi Resmi dan Pemantauan Harga

Bagi masyarakat yang ingin memantau harga BBM secara real-time, Pertamina Patra Niaga menyediakan pembaruan harga di situs resmi www.mypertamina.id
Selain itu, pengumuman resmi juga rutin dipublikasikan melalui akun media sosial resmi Pertamina setiap awal bulan.

Transparansi informasi ini penting agar masyarakat mendapat data akurat dan terkini, sekaligus mencegah beredarnya informasi palsu seputar harga BBM.

Media Perbankan
Media Perbankan Media perbankan terdepan dan terpercaya di Indonesia.

Posting Komentar