Dirut Bank Lampung: Profil, Visi, dan Peran Strategis Mahdi Yusuf
Bank Lampung sebagai salah satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) memiliki peran penting dalam menopang pembangunan ekonomi Provinsi Lampung. Keberadaan bank ini tidak hanya sekadar institusi keuangan, melainkan juga menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung pembiayaan, mendorong UMKM, hingga memperkuat literasi keuangan masyarakat.
Di balik perjalanan sebuah bank daerah, sosok Direktur Utama (Dirut) selalu memegang peranan sentral. Ia menjadi penentu arah kebijakan, inovasi, dan strategi bisnis agar bank tetap relevan di tengah perubahan industri keuangan. Saat ini, tongkat kepemimpinan Bank Lampung dipegang oleh Mahdi Yusuf, yang resmi ditetapkan sebagai Dirut melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Januari 2025.
Profil Singkat Mahdi Yusuf
Mahdi Yusuf bukan orang baru di Bank Lampung. Sebelumnya ia menjabat sebagai Direktur Kepatuhan, posisi yang membuatnya sangat memahami seluk-beluk tata kelola, regulasi, dan manajemen risiko perbankan. Latar belakang ini menjadi modal penting dalam memimpin bank daerah yang sedang berupaya melakukan transformasi.
Pengangkatannya sebagai Dirut juga telah melalui uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini menunjukkan bahwa Mahdi tidak hanya dipercaya oleh internal bank, tetapi juga memenuhi standar kompetensi regulator.
Dalam beberapa kesempatan, ia tampil sebagai sosok yang dekat dengan daerah. Kunjungan kerja ke berbagai kabupaten/kota, termasuk ke Pesisir Barat, memperlihatkan komitmennya dalam mendukung pembiayaan sektor produktif, khususnya untuk UMKM dan pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Lampung.
Visi dan Misi Strategis
Sebagai pemimpin baru, Mahdi Yusuf membawa arah strategi yang jelas untuk menjadikan Bank Lampung lebih kuat, modern, dan berdaya saing. Beberapa poin utama visi dan misinya antara lain:
-
Penguatan digitalisasi layanan perbankan. Bank Lampung ditargetkan memiliki platform mobile banking yang lebih andal, memperluas layanan QRIS, dan terhubung dengan sistem pembayaran nasional.
-
Mendorong inklusi keuangan. Fokus pada masyarakat pedesaan dan nelayan agar mereka dapat mengakses produk tabungan, kredit, maupun layanan pembayaran dengan lebih mudah.
-
Meningkatkan sinergi dengan pemerintah daerah. Bank Lampung akan lebih agresif mendukung pembiayaan pembangunan daerah, termasuk proyek strategis yang dikelola Pemprov Lampung.
-
Mendorong pembiayaan UMKM. Akses kredit untuk usaha mikro dan kecil diperluas dengan bunga kompetitif dan program pendampingan usaha.
-
Good Corporate Governance (GCG). Menjaga transparansi, akuntabilitas, dan integritas manajemen agar Bank Lampung tetap sehat dan dipercaya publik.
Kontribusi dan Capaian di Bawah Kepemimpinannya
Meski baru beberapa bulan menjabat, arah kebijakan Mahdi Yusuf sudah terlihat nyata. Sejumlah langkah awal yang dilakukan antara lain:
-
Digitalisasi perbankan. Bank Lampung mulai memperluas layanan berbasis digital untuk mempercepat transaksi nasabah.
-
Peningkatan akses pembiayaan. Fokus pada sektor UMKM, pertanian, dan perikanan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah serta program kredit yang lebih fleksibel.
-
Penguatan modal dan peran dalam KUB. Bank Lampung berencana memperkuat posisi dengan bergabung dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) bersama Bank Jatim, demi memastikan modal inti bisa menembus target minimum Rp3 triliun sesuai aturan OJK.
-
Membangun reputasi positif. Mahdi mendorong agar Bank Lampung lebih terbuka kepada publik, baik melalui publikasi kinerja maupun partisipasi dalam kegiatan sosial di daerah.
Dari sisi keuangan, Bank Lampung menunjukkan tren yang cukup positif pada 2024. Total aset mencapai lebih dari Rp10 triliun, dengan pertumbuhan kredit yang stabil, meski tetap dihadapkan pada tantangan rasio kredit bermasalah (NPL) yang harus ditekan. Kinerja ini menjadi landasan awal bagi Mahdi untuk memperbaiki kualitas pembiayaan ke depan.
Tantangan yang Dihadapi
Sebagai BPD, Bank Lampung menghadapi sejumlah tantangan serius. Di antaranya:
-
Persaingan ketat dengan bank nasional. Produk dan layanan bank besar yang lebih variatif membuat Bank Lampung harus meningkatkan inovasi.
-
Rendahnya literasi keuangan sebagian masyarakat. Edukasi dan sosialisasi masih harus digencarkan agar lebih banyak warga Lampung memanfaatkan layanan bank.
-
Kewajiban modal inti minimum Rp3 triliun. Jika tidak terpenuhi, bank berpotensi diturunkan statusnya menjadi BPR. Karena itu, strategi KUB menjadi sangat penting.
-
Perubahan iklim ekonomi global. Fluktuasi suku bunga, inflasi, dan tekanan ekonomi internasional bisa memengaruhi daya beli masyarakat serta kualitas kredit.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan pengalaman dan kedekatan Mahdi Yusuf terhadap daerah, Bank Lampung diharapkan mampu menjadi lebih dari sekadar BPD. Ia diposisikan sebagai motor penggerak ekonomi Lampung yang dapat memperkuat sektor produktif, menjaga stabilitas keuangan daerah, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan lokal.
Transformasi digital, dukungan pada UMKM, dan sinergi dengan pemerintah daerah menjadi tiga pilar utama yang diyakini mampu membawa Bank Lampung ke arah yang lebih maju.

Posting Komentar