Peran Bank Indonesia sebagai Regulator: Menjaga Stabilitas & Dorong Inovasi Digital 2025
Halo Pembaca!
Di tahun 2025, Bank Indonesia (BI) terus memegang perannya sebagai regulator kuat sekaligus inovator di dunia perbankan dan pembayaran digital. Yuk, kita ulas bareng!
1. Kebijakan Moneter: BI Rate Terus Pro‑Growth
-
BI Rate—yang disebut BI 7‑Day Reverse Repo Rate—baru saja dipangkas lagi pada 16 Juli 2025 ke level 5,25 %, penurunan keempat sejak September tahun lalu. Ini langkah strategis untuk merangsang aktivitas ekonomi, khususnya di tengah gejolak global dan perlambatan permintaan domestik.
-
Inflasi hingga Juni masih terkendali di sekitar 1,6 – 1,9 %, di kisaran target BI, memberi ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut.
Mengapa penting? BI Rate memengaruhi bunga kredit bank, investasi, dan konsumsi—semakin rendah, semakin banyak masyarakat yang terdorong meminjam dan belanja.
2. Pengawasan Makroprudensial = Jaminan Stabilitas Sistem
Walau OJK mengambil peran pengawasan mikro, BI fokus pada makroprudensi:
-
Pantau risiko sistemik, termasuk gelembung kredit.
-
Terapkan aturan LTV/BTV dan countercyclical capital buffer.
-
Kolaborasi lewat FKSSK memastikan koordinasi BI–OJK–Kemenkeu.
Contoh: Saat pandemi 2020, BI melonggarkan LTV & memberi insentif likuiditas agar kredit UMKM tetap mengalir.
3. Sistem Pembayaran Masa Depan
BI kini bukan sekadar regulator tapi juga operator teknologi:
-
BI‑FAST buat transfer real-time 24/7 sudah berjalan mulus sejak 2021.
-
QRIS Tap—QR code yang bisa tap sesaat—resifikasi NFC sudah diluncurkan Maret 2025.
-
Sedang giat tes Digital Rupiah (retail & wholesale) lewat Project Garuda, bagian dari blueprint BI hingga 2030. Pilot wholesale Rupiah sukses, retail bakal diuji pada 2025–2026.
4. Pengawasan Ruang Digital & Crypto
-
BI tegas: cryptocurrency tidak boleh dipakai sebagai alat pembayaran.
-
Sementara itu, regulasi aset digital dialihkan ke OJK sejak Januari 2025.
-
BI memonitor infrastruktur & operasional penyedia jasa sistem pembayaran digital, memastikan keamanan & data privacy.
5. Koordinasi & Peran Global
-
BI aktif di forum seperti BIS, ASEAN, dan menjalin currency swap bilateral.
-
Di dalam negeri, BI terus bersinergi dengan pemerintah lewat forum dan program KUR—memastikan suku bunga & likuiditas kompetitif.
Kenapa Ini Krusial?
Dampak | Manfaat |
---|---|
Ekonomi makro | inflasi rendah, rupiah stabil, pertumbuhan 4,6–5,4 % menuju batas atas proyeksi |
Pelaku usaha & masyarakat | Kredit murah, transaksi cepat, keamanan transaksi digital |
Inovasi | Akselerasi inklusi keuangan Jakarta–Papua via sistem digital & CBDC |
Catatan Kecil
-
BI tetap “dovish”: siap potong lagi BI Rate jika data ekonomi mendukung.
-
Project Garuda bukan sekadar digitalisasi: BI sedang mempersiapkan CBDC dengan interoperabilitas penuh, dukungan regulasi keamanan siber & Lindungi data elektronik hadir melalui PBI 2/2024 & PBI 10/2024.
Kesimpulan
Bank Indonesia 2025 bukan hanya “pengatur”. BI adalah penyeimbang stabilitas & katalisator inovasi:
-
Stabilitas moneter lewat BI Rate & makroprudensi.
-
Kemajuan sistem pembayaran & digital banking lewat infrastruktur canggih.
-
Keamanan & inklusi warga di penjuru nusantara lewat regulasi modern.
Dengan peran ganda ini, BI memastikan Indonesia siap menghadapi tantangan ekonomi global dan digitalisasi yang agresif—semuanya tetap berpijak pada stabilitas rupiah dan kepercayaan publik.
Posting Komentar