Peran Bank Indonesia di 2025: Jaga Stabilitas Keuangan & Kawal Digitalisasi Sistem Pembayaran

Daftar Isi

Bank Indonesia (BI) bukan cuma soal menetapkan suku bunga. Di 2025 ini, perannya makin luas: jadi pengawas yang menjaga kesehatan sistem perbankan sekaligus mengawal transformasi digital di sistem pembayaran nasional.

1. Kenapa BI Tetap Dibutuhkan sebagai Pengawas?

Mulai dari boom fintech sampai tekanan ekonomi global, sistem keuangan kita terus berkembang. Meski pengawasan bank mikro kini dipimpin OJK, BI tetap punya tugas vital: memantau stabilitas seluruh sistem keuangan—dari risiko makro hingga keamanan transaksi digital.

2. Tugas Pengawasan BI di Tahun Ini

a. Makroprudensial – Fokus ke Risiko Sistemik

  • BI tetap tangkas pantau risiko sistemik, seperti risiko eksternal, gejolak mata uang, hingga kredit properti.

  • Instrumen utamanya: buffer modal kontra-siklus (CCyB), uji stres (stress test), dan rasio LTV/FTV untuk mencegah gelembung properti.

b. Sistem Pembayaran – Jaga Transaksi Digital & Tunai

  • Awasi operator dompet digital (GoPay, OVO) dan fintech yang berizin.

  • Standarisasi keamanan: compliance ISO, regulasi anti-pencucian uang.

  • Dorong inklusi digital: QRIS makin masif, dan interkoneksi pembayaran lintas negara makin kencang.

c. Monitoring Bank yang Berpengaruh ke Kebijakan Moneter

  • Cek likuiditas bank (GWM), memastikan mereka tak memperngaruhi pasar uang antarbank.

  • Pantau pelaksanaan kebijakan BI, termasuk BI7DRR dan data laporan devisa.

d. Stabilitas Eksternal & Devisa

  • Kontrol transaksi valuta asing agar rupiah tak terguncang.

  • Jaga cadangan devisa cukup untuk jaga negara dari krisis eksternal.

3. Bagaimana BI Mengawasi?

  • Regulasi & Aturan: Terus perbarui peraturan BI (PBI) dan surat edaran, seperti soal makroprudensial & pembayaran digital.

  • Pemeriksaan & Audit Tematik: Fokus pada isu-isu penting (misalnya risiko siber di fintech).

  • Sanksi Tegas: Denda, pembatasan atau pencabutan izin pada yang melanggar.

  • Sistem Real-Time: Pakai SIPM untuk pantau data makro dan dinamika keuangan secara konstan.

4. Kolaborasi Strategis BI – OJK = Sinergi Mantap

BI dan OJK berjalan beriringan:

  • BI → fokus pada kestabilan sistem, kebijakan moneter, dan pembayaran.

  • OJK → khusus untuk kesehatan bank, fintech, dan perlindungan konsumen.

  • Dua lembaga ini duduk di Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), bergerak cepat bersama saat ada yang bermasalah, misalnya saat pandemi atau gejolak global.

5. Contoh Praktis di Tahun Terakhir

  • Pasca Covid-19: BI menurunkan GWM, melonggarkan LTV untuk properti untuk memacu pemulihan.

  • Dompet Digital & QRIS: Pertumbuhan transaksi cepat, dengan pengawasan BI yang memastikan sistemnya aman dan mudah dipakai.

  • Kelola Fluktuasi Rupiah: Saat rupiah sempat melemah di semester I 2025, BI berkoordinasi dengan OJK dan LPS untuk stabilisasi pasar.

Catatan Penting

  • Pengawasan BI bersifat makroprudensial, berbeda dengan pengawasan mikro yang jadi tanggung jawab OJK.

  • BI harus ekstra waspada terhadap risiko siber dan ketegangan geopolitik yang bisa mengguncang sistem.

  • Untuk data lengkap, silakan cek Laporan Stabilitas Sistem Keuangan (LSSK) BI terbaru 2024/2025.

Media Perbankan
Media Perbankan Media perbankan terdepan dan terpercaya di Indonesia.

Posting Komentar