Widget HTML #1

Sejarah dan Perkembangan Bisnis Bank BCA


Bank BCA adalah salah satu bank swasta terbesar di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan menarik. Bank ini berdiri sejak tahun 1955 dengan nama “N.V. Perseroan Dagang Dan Industrie Semarang Knitting Factory” oleh Soedono Salim, yang juga dikenal sebagai Liem Sioe Liong. 

Bank ini kemudian berubah nama menjadi “N.V. Bank Central Asia” pada tahun 1956 dan menjadi “PT Bank Central Asia” pada tahun 1975. Bank ini mengalami perkembangan pesat sejak tahun 1970-an, saat bank ini melakukan merger dengan bank lain, mengembangkan produk dan layanan perbankan, serta mengadopsi teknologi informasi untuk meningkatkan kinerja dan jangkauan. 

Bank ini juga menghadapi tantangan besar saat krisis moneter pada tahun 1997-1998, yang menyebabkan bank run dan intervensi pemerintah. Bank ini berhasil bangkit dari krisis dan terus memperkuat dan mengembangkan bisnisnya pada tahun 2000-an hingga sekarang. 

Bank ini juga memasuki lini bisnis baru, seperti perbankan syariah, pembiayaan sepeda motor, asuransi umum, dan sekuritas. Bank ini mencetak rekor laba pada tahun 2022, yaitu sebesar Rp 34,1 triliun, naik 11,9% dari tahun sebelumnya.

Awal Berdiri Bank BCA

Bank BCA didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955 dengan nama “N.V. Perseroan Dagang Dan Industrie Semarang Knitting Factory” oleh Soedono Salim, yang juga dikenal sebagai Liem Sioe Liong. 

Perusahaan ini awalnya bergerak di bidang pabrik rajut di Semarang, Jawa Tengah. Pada tanggal 12 Oktober 1956, perusahaan ini mulai beroperasi di bidang perbankan dengan nama “N.V. Bank Central Asia” dan memindahkan kantor pusatnya dari Semarang ke Asemka, Jakarta. 

Kantor cabang pertama Bank BCA berdiri di daerah ini. Pada tanggal 2 September 1975, nama bank diubah menjadi “PT Bank Central Asia” (BCA) dan memperkuat jaringan layanan cabang dengan melakukan merger atau penggabungan dengan bank lain. 

Salah satu merger yang memberikan dampak besar bagi BCA adalah dengan Bank Gemari milik Yayasan Kesejahteraan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tahun 1977. Penggabungan ini membuat BCA berkembang menjadi Bank Devisa.

Perkembangan Produk dan Layanan Bank BCA

Pada tahun 1980-an, BCA mengembangkan berbagai produk dan layanan perbankan, terutama Tabungan Hari Depan (Tahapan) BCA, yang merupakan produk tabungan pertama yang menggunakan sistem online untuk jaringan kantor cabang. BCA juga mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia untuk mendapatkan izin mengeluarkan dan mengedarkan kartu kredit BCA yang bisa berlaku secara internasional. 

Pada tahun 1990-an, BCA mengembangkan alternatif jaringan layanan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri atau Automated Teller Machine) dan bekerja sama dengan berbagai institusi terkemuka, seperti PT Telkom, Citibank, dan lain-lain, untuk menyediakan layanan pembayaran tagihan melalui ATM BCA. 

Pada tahun 2000-an, BCA memperkuat dan mengembangkan produk dan layanan perbankan elektronik, seperti Debit BCA, Tunai BCA, internet banking KlikBCA, mobile banking m-BCA, EDCBIZZ, dan lain-lain. BCA juga mendirikan fasilitas Disaster Recovery Center di Singapura dan meningkatkan kompetensi di bidang penyaluran kredit, termasuk melalui ekspansi ke bidang pembiayaan mobil melalui entitas anaknya, BCA Finance. 

BCA juga menjadi pelopor dalam menawarkan produk kredit kepemilikan rumah dengan suku bunga tetap pada tahun 2007. Pada tahun 2010-an hingga sekarang, BCA memasuki lini bisnis baru, seperti perbankan syariah, pembiayaan sepeda motor, asuransi umum, dan sekuritas. 

BCA juga memperluas jaringan dan fitur ATM, meluncurkan kartu prabayar Flazz Card, menawarkan layanan Weekend Banking, dan mengembangkan konsep baru Electronic Banking Center. BCA juga melakukan kolaborasi dengan berbagai mitra, seperti e-commerce, fintech, dan startup, untuk memberikan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Tantangan dan Prestasi Bank BCA

Bank BCA menghadapi tantangan besar saat krisis moneter yang berdampak pada sektor perbankan. BCA mengalami bank run, yaitu penarikan dana nasabah secara besar-besaran. BCA pun menjadi Bank Take Over (BTO) dan disertakan dalam program rekapitalisasi dan restrukturisasi yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebuah institusi pemerintah. 

Pada tahun 1999, proses rekapitalisasi BCA selesai, dimana pemerintah Indonesia melalui BPPN menguasai 92,8% saham BCA sebagai hasil pertukaran dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Dalam proses rekapitalisasi tersebut, kredit pihak terkait dipertukarkan dengan Obligasi Pemerintah. 

Pada tahun 2000-an, BPPN melakukan divestasi sebagian saham BCA melalui Penawaran Saham Publik Perdana (IPO) dan Penawaran Publik Kedua (Secondary Public Offering), sehingga kepemilikan BPPN berkurang menjadi 60,3% pada tahun 2001. 

Pada tahun 2002, FarIndo Investment (Mauritius) Limited mengambil alih 51% total saham BCA melalui proses tender strategic private placement. Pada tahun 2004, BPPN melakukan divestasi atas 1,4% saham BCA kepada investor domestik melalui penawaran terbatas.

Pada tahun 2005, pemerintah Republik Indonesia melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melakukan divestasi seluruh sisa kepemilikan saham BCA sebesar 5,02%. Bank BCA berhasil bangkit dari krisis dan terus berinovasi dan berkembang untuk memberikan layanan perbankan yang berkualitas dan memuaskan bagi nasabahnya. 

Bank BCA mencetak rekor laba pada tahun 2022, yaitu sebesar Rp 34,1 triliun, naik 11,9% dari tahun sebelumnya. Pencapaian ini ditopang oleh permintaan kredit korporasi, komersial, dan UKM, yang tumbuh masing-masing sebesar 12,5%, 10,1%, dan 12,6%. Bank BCA juga memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah, yaitu sebesar 1,4%.